Pengamat: Perlu Komunikasi Intens Dengan Tokoh Masyarkat Atasi Konflik Sunni Syiah di Madura

josstoday.com

JOSSTODAY.COM - Sudah 99 hari berjalan masa kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak, sudah ada banyak hal yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan Jatim. Sayang, dari berbagai upaya masih ada masalah yang belum terselesaikan yakni pengentasan berbagai masalah di Madura. Utamanya permasalahan antara sunni dan syiah.

Hal itupun diakui oleh Gubernur Khofifah dalam pemaparan 99 hari kerja di Gedung Negara Grahadi, Selasa (29/5/2019) malam.

Di mana, permasalahan antara Sunni dan Syiah ini sudah sejak lama terjadi. Bahkan, sudah ada kejadian saling serang di Madura. Sehingga, beberapa warga Syiah diungsikan ke beberapa tempat yang dirahasiakan.

Karena itu, dalam 99 hari kerja Khofifah-Emil memasukkan Madura menjadi salah satu fokus pembenahan hampir di semua sektor. Namun, dari hasil ketika ia turun langsung menemui tokoh ulama maupun tokoh masyarakat, nampaknya masih banyak yang menolak untuk menerima warga syiah yang berada di Omben.

"Jadi saya ketemu dengan tokoh-tokoh dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Di situ, mereka ngomong ke saya jangan pernah (Syiah) kembali ke Madura," aku Khofifah.

Melihat kondisi itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam menjelaskan, jika ada sesuatu yang sangat sulit dirubah dari karakter masyarakat Madura. Adalah sangat sesitif terhadap sesuatu yang dirasa sudah menyangkut kehormatan.

“Sebenarnya kalau dilihat masyarakat Madura ini sangat menerima keberagaman. Ada begitu banyak kaum minoritas yang bisa hidup bersama. Tapi, mereka akan sangat sensitif terhadap sesuatu yang dirasa menyinggung masalah kehormatannya,” kata Surokim kepada Josstoday.com, Jumat (31/5/2019).

Menurut pria yang juga peneliti di Surabaya Survey Center itu, bahwa perlu adanya pendekatan yang ekstra dari pemerintah kepada seluruh tokoh-tokoh ulama maupun masyarakat yang banyak menjadi faktor utama pergerakan masyarakat Madura.

Ia mencontohkan saat kasus pembakaran Polsek Tambelengan yang diwarnai karena kabar penangkapan kyai di Jakarta, serta ada penahanan kyai di Polsek itu.

“Saya rasa caranya ya melakukan komunikasi dengan para tokoh masyarakat. Bagaimana dulu yang dilakukan Pakde Karwo (Soekarwo, mantan Gubernur Jatim) yang berkomunikasi dengan tokoh masyarakat ketika tingkat imunisasi di Madura sangat rendah sekitar 15 persen. Tapi, setelah dilakukan pertemuan jadi meningkat sampai 80 persen melebihi daerah lain. Sehingga, ini bisa jadi salah satu yang bisa dilakukan bu Khofifah,” pungkasnya. (ais)

Gubernur Jatim Khofifah Madura Sunni Syiah