Puan Ingatkan Sri Mulyani, RAPBN 2022 Harus Antisipasi Ketidakpastian Pandemi

josstoday.com

Ketua DPR Puan Maharani bersama Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar menerima draft pandangan pemerintah dari Menteri Keuangan Sri Mulyani pada Rapat Paripurna DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 20 Mei 2021. (Foto: BeritaSatu Photo/Ruht Semiono)

JOSSTODAY.COM - Ketua DPR Puan Maharani mengingatkan pemerintah tetap mengantisipasi ketidakpastian pandemi Covid-19 dalam penyusunan kerangka ekonomi makro Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2022. Hal tersebut disampaikan Puan selepas rapat paripurna DPR RI ke-18 masa persidangan V tahun sidang 2020 - 2021 yang dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (20/5/2021).

Puan mengatakan, pemerintah saat ini terus menggalakkan program vaksinasi Covid-19. Namun kondisi ketidakpastian akibat pandemi harus diantisipasi dalam menyusun kerangka ekonomi makro dan kebijakan fiskal RAPBN 2022. Meski indikator menunjukkan ekonomi Indonesia menuju tren pemulihan, tetapi APBN tetap harus mengantisipasi bila sewaktu-waktu terjadi perburukan.

"Kita mesti belajar dari pengalaman di awal tahun ini saat terjadi lonjakan kasus Covid-19 sehingga pengetatan aktivitas masyarakat kembali dilakukan yang berdampak pada perekonomian. Kejadian seperti melonjaknya kasus Covid-19 di India yang dampaknya turut merembet ke berbagai belahan dunia juga mesti diantisipasi," kata Puan.

Sebelumnya, saat menyampaikan pidato pengantar dan keterangan pemerintah atas kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2022 di rapat paripurna DPR ke-18 masa persidangan V tahun 2020-2021, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengusulkan indikator ekonomi makro untuk penyusunan RAPBN 2022. Pemerintah mengusulkan target pertumbuhan ekonomi 5,2%-5,8% dengan tingkat inflasi 2,0%-4,0%. Selain itu, tingkat suku bunga surat utang negara (SUN) 10 tahun 6,32%-7,27%, nilai tukar rupiah Rp 13.900-Rp 15.000 per dolar AS, harga minyak mentah Indonesia US$ 55-65 per barel, lifting minyak 686.000-726.000 barel per hari, dan lifting gas 1,031 juta-1,103 juta barel setara minyak per hari.

Sebagaimana disampaikan Sri, penanganan Covid-19 tidak lantas membuat upaya perbaikan fundamental perekonomian jadi terabaikan. Sri menyebut Indonesia memiliki sejumlah masalah struktural yang masih harus diatasi, yakni kualitas SDM, infrastruktur yang belum memadai, produktivitas rendah, serta birokrasi yang tidak efisien.

Terkait hal ini, Puan menyebut fundamental perekonomian memang harus dibenahi. Hanya, ia juga berharap agar program yang memberikan nilai tambah dan meningkatkan penghasilan bagi rakyat juga menjadi prioritas dalam jangka pendek. "Seluruh masalah struktural terkait SDM, produktivitas, hingga birokrasi memang mesti dibenahi. Namun, program-program yang dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi dan penghasilan bagi rakyat secara langsung dan cepat juga harus diprioritaskan oleh pemerintah," kata Puan. (is/b1)

 

RAPBN 2022 Puan Maharani Sri Mulyani Ekonomi Makro