Peradaban Indonesia Telah Mengakar pada Sosial Budaya Nusantara Sejak Lama

josstoday.com

Yayasan Bali Purnati bersama dengan Pemerintah Desa Batuan bekerja sama untuk melakukan Program Gerakan Kebudayaan yang berkelanjutan yaitu program kebudayaan “Jiwa Gambuh”. (Foto: dok)

JOSSTODAY.COM - Sumpah Pemuda merupakan tonggak sejarah dalam proses tumbuh kembangnya bangsa Indonesia. Kendati sebagai kesatuan identitas Indonesia baru lahir pada waktu itu, namun peradaban Indonesia sudah berakar pada elemen-elemen sosial budaya di Nusantara, puluhan ribu tahun silam.

Hal itu disampaikan Ketua Panitia Acara Kongres Kebangsaan Mayjen TNI (Purn) I Dewa Putu Rai, dalam pidato sambutannya di Kongres Kebangsaan dengan tema “Ikhtiar Memperadabkan Bangsa”, yang disiarkan secara daring, Kamis (28/10/2021).

“Kongres kebangsaan ini sengaja dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda yang merupakan tonggak sejarah penting dalam proses tumbuhnya kebangsaan Indonesia. Walaupun bangsa Indonesia sebagai kesatuan identitas baru lahir pada momen bersejarah Sumpah Pemuda ini, namun peradaban Indonesia sesungguhnya sudah berakar pada elemen-elemen sosial budaya yang telah puluhan ribu lamanya hadir di Bumi Nusantara,” ujar Dewa.

Dikatakan Dewa, penulis Clifford Geertz dalam bukunya yang berjudul “Old Societies dan New States”, mengilustrasikan Indonesia sebagai old wine in new bottle atau anggur tua dalam botol baru.

“Gugusan masyarakat lama dalam negara baru. Bahkan, di masa lalu, bangsa ini diakui pernah memiliki peradaban tinggi dengan penguasaan teknologi yang tinggi pula pada zamannya. Tanpa penguasaan teknologi yang tinggi rasanya mustahil anak-anak bangsa pada zaman Kerajaan Sailendra mampu membangun Candi Borobudur yang memiliki 2.672 panel relief dan 504 arca Budha,” ungkapnya.

Akan tetapi, kata Dewa, harus diakui beradaban bangsa Indonesia pernah juga mengalami keterpurukan akibat penjajahan ratusan tahun lebih, sehingga mengalami apa yang disebut hegemoni peradaban kolonialisme.

Dewa menuturkan dalam rangka menggalang pemikiran dan gagasan untuk membangun kembali peradaban Indonesia, maka sejak 20 Maret 2019, Aliansi Kebangsaan bersama Forum Rektor Indonesia, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asosiasi Ilmu Politik Indonesia, Yayasan Suluh Nusantara Bakti, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, serta media telah menyelenggarakan diskusi serial selama kurang lebih tiga tahun, dengan tema “Kebangsaan yang Berperadaban Membangun Indonesia dengan Paradigma Pancasila”.

“Diskusi serial ini dilaksanakaan atas keterpanggilan dan kesadaran para cendikiawan Indonesia akan perlunya terobosan dan pendekatan baru dalam menjawab tantangan pembangunan bangsa atau pembangunan negara, untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” katanya.

Melalui pertukaran pikiran dan gagasan selama pelaksanaan diskusi serial tersebut, tambahnya, telah dikembangkan suatu pendekatan budaya peradaban berdasarkan paradigma Pancasila sebagai perangkat operasional pembangunan nasional dalam tiga ranah kehidupan bangsa yaitu, ranah mental kultural atau tata nilai, ranah institutional political atau ranah tata kelola, dan ranah tata sejahtera.

“Pendekatan tiga ranah peradaban dengan paradigma Pancasila ini diyakini dapat digunakan sebagai tolok ukur paradigmatis dalam menguji dan mengembangkan sistem ketahanan nasional dan pembangunan nasional kita. Berbagai argumentasi serta pemikiran selama pelaksanaan diskusi serial tersebut telah dirangkum di dalam sebuah buku yang saat ini masih dalam proses pencetakan,” ucapnya.

Dewa menegaskan upaya menyosialisasikan dan memperkaya berbagai pemikiran dalam pendekatan paradigma tersebut terus dilaksanakan. Puncaknya diharapkan melalui kongres kebangsaan hari ini.

“Gagasan pelaksanaan kongres hari ini mendapatkan dukungan cukup luas dari kaum cendikiawan berbagai lintas profesi dan institusi, golongan pengusaha dan masyarakat politik, serta berbagai komponen masyarakat yang merasa terpanggil menjadikan krisis pandemi Covid-19 yang sedang kita hadapi sebagai titik balik kebangkitan bangsa, sebagaimana komitmen dan janji kebangsa yang diikrarkan oleh pemuda pemudi Indonesia, pada kongres pemuda kedua, pada 28 Oktober 1928 yang lalu,” katanya.

Menurut Dewa, komitmen dan janji kebangsaan yang menyatukan semua perbedaan dalam satu identitas Bangsa, Tanah Air dan Bahasa Indonesia tersebut, tentu merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi Bangsa Indonesia yang harus dirawat dan dikuatkan kembali untuk kemajuan bangsa dan negara ke depan.

“Saat ini kita sedang menghadapi pandemi Covid-19 dengan dampaknya yang begitu luas. Untuk itu, kiranya kongres kebangsaan ini dapat dijadikan ruang dan momentum penguatan komitmen kebangsaan kita dalam ikhtiar memperadabkan bangsa sebagaimana tema kongres kebangsaan hari ini,” tandasnya. (fa/b1)

Nusantara Peradaban Sumpah Pemuda Hari Sumpah Pemuda