The Scoupe of Ihsan
KONSEP Ihsan ini mustinya melingkupi seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu perlu bagi kita untuk memberikan terminologi ihsan secara lebih komprehensif, bahwa ihsan adalah ketika menjalani aktivitas kehidupan ini seolah-olah hati kita melihat Allah. Apabila maqam ini belum tercapai, maka setidak-tidaknya kita berkeyakinan bahwa apapun yang kita lakukan dalam kehidupan ini semata-mata karena dilihat Allah.
Konsep Ihsan perlu kita maknai lebih dalam, ketika bicara kemudian hatinya merasa dilihat Allah, maka bicaranya pasti jujur dengan kata-kata yang baik. Ketika terdengar adzan, maka orang yang hatinya dilihat Allah akan segera mengehentikan pekerjaannya dan bergegas melaksanakan sholat. Begitupun ketika seorang karyawan melayani customer, tidak mungkin memberikan layanan tidak sopan dan asal-asalan, pasti memberi layana terbaik, baik quality, cost maupun delivery (QCD). Orang yang hatinya melihat Allah yakin bahwa yang mentakdirkan customer datang dengan membawa order itu adalah Allah, Karena itu, sudah selayaknya seseorang yang digiring oleh Allah datang ke perusahaan ini berhak mendapatkan pelayanan terbaik. Keyakinan bahwa Allah selalu melihat dan hadir dalam kiprah bisnis dan kegiatan profesi di perusahaan atau institusi tempat kita bekerja itulah disebut Allah as a hidden stake holder.
Pemaknaan yang komprehensif tersebut sekaligus menepis anggapan yang mempersempit pemahaman bahwa Ihsan itu terkait dengan ibadah ritual semata. Tegasnya, Ihsan mencakup ibadah ritual maupun ibadah social untuk kemasalahatan bersama.
Jika dalam pranata syariah Islam telah dikenal dua klasifikasi ibadah, hablum minallah yang disamakan dengan rukun Islam pada umumnya (termasuk sholat) dan hablum minannas yang sering disebut ibadah ‘am (umum), maka terminology Ihsan ini haruslah mencakup keduanya.
Pemaknaan yang komprehensif tersebut perlu ditegaskan mengingat masih demikian banyak ummat yang memaknai Ihsan dalam perspektif yang sempit yaitu khusyu’ beribadah mahdhah. Figur yang relevan dengan makna itu sepertinya sosok santri masjidan, kuplukan, sarungan dan jidatnya hitam. Tentu tidak sepenuhnya benar, meskipun tidak juga sepenuhnya salah.
Sosok Rasulullah dan para sahabat tentunya lebih tepat memberi gambaran tentang role model Ihsan yang sebenarnya. Ada figure Ali bin Abi Tholib, pemuda yang tidak terlalu kaya secara material tetapi cerdasnya luar biasa, bahkan disebut-sebut ranking dua setelah Nabi. Ada Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan pebisnis sukses tetapi dermawannya luar biasa. Bahkan konon masih ada rekening Utsman bin Affan di rekening Bank Of Saudia, sebagai hasil pengembangan dana infaqnya selama 15 abad, bisa dibayangkan berapa banyak amal jariyah Utsman?. Ada duo Umar yang dengan kepemimpinan dan pelayanannya mampu merubah padang pasir yang tandus menjadi masayarakat madani yang tidak ada kemiskinan sama sekali.
Pendek kata, tafsir professional saya bahwa Ihsan itu sosok yang keren dan prefesional dibidangnya masing-masing, bekerja dan memimpin tidak asal-asalan tapi kontribusinya signifikan.
Tahapan Ihsan
Hidup dengan spirit Ihsan bisa diartikan hidup dengan nilai tambah, berupa perbaikan dan peningkatan kebaikan, hidupanya pasti barokah. Rasulullah bersabda: “Tuba liman thala umruhu wa hasuna ‘amaluhu”. Berbahagialah bagi orang yang dipanjangkan umurnya dan baik amal perbuatannya (Hadist Shahih).
Hidup barokah itu ditandai dengan usaha maksimal ke arah dinamika kehidupan yang lebih baik, lebih produktif dan lebih kontributif serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan masyarakat di sekitarnya.*