Globalisasi, Kemanusiaan, dan Gerakan Mahasiswa
JOSS.TODAY - Kehidupan manusia kontemporer tidak dapat dilepaskan dari selimut globalisasi. Perkembangan teknologi informasi yang kian pesat membawa manusia pada suatu era di mana dunia menjadi seolah tidak bersekat (borderless).
Keterhubungan antara satu negara dengan negara yang lain menjadi keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan. Bahkan, kecenderungan untuk melebur menjadi komunitas masyarakat universal menunjukkan tanda-tanda yang signifikan dengan ditampilkannya pola kerjasama masif yang dilakukan oleh hampir semua negara. Agaknya tidak hanya dalam konteks negara, tetapi globalisasi juga mempersatukan manusia secara individual untuk menyatu dan membangun kesadaran sebagai komunitas manusia yang universal.
Kita tidak dapat menampik bahwa pengaruh globalisasi telah menyentuh di hampir semua sendi kehidupan mulai dari ekonomi, politik, sosial, termasuk juga hukum. Sekarang dapat kita saksikan dan rasakan betapa globalisasi menjadikan dunia ini seolah satu tanpa ada batas-batas negara yang mengikat. Seluruh manusia digiring pada kenyataan di mana kehidupan yang universal menjadi pilihan yang tidak dipungkiri.
Fenomena demikian setidaknya membawa dua implikasi besar yang pada nyatanya benar-benar terjadi saat ini. Pertama, muncul saling ketergantungan di antara negara-negara, baik kecil maupun besar, demi memperoleh keuntungan satu sama lain. Kendati demikian, dalam banyak kasus, tidak jarang hubungan yang dianggap saling menguntungkan tersebut dipandang sebagai hubungan yang bercorak simbiosis parasitisme di mana yang diuntungkan hanyalah salah satu pihak saja.
Kedua, menguatnya kesadaran tentang arti pentingnya kemanusiaan sebagai suatu yang vital dalam menjalani kehidupan universal di bumi yang luas ini. Kesadaran tersebut didasarkan pada keyakinan dan kenyataan bahwa manusia kini telah hidup secara kolektif-universal. Itu artinya, semua manusia ibarat organ yang saling berkaitan untuk menyusun satu tubuh.
Apabila, katakanlah, ada satu sisi kelompok manusia yang mengalami penderitaan maka sisi kelompok manusia yang lainnya akan berupaya untuk menyelematkan. Karena pada dasarnya meleburnya manusia pada suatu fenomena kehidupan universal membuat manusia semakin memiliki rasa kepedulian (sense of awareness) yang tinggi satu sama lain.
Implikasi yang disebut di atas tentu saja tidak menampik adanya dampak-dampak yang tidak diinginkan selama proses globalisasi berlangsung. Sebut saja konsumerisme, hedonisme, hingga makin kuatnya liberalisme dan sekularisme. Asumsi dasarnya ialah bahwa globalisasi yang bertumpu pada modernisme menempatkan manusia sebagai objek material yang memiliki rasionalitas tinggi sehingga dalam taraf tertentu aspek spiritualitas dan kerohanian menjadi terabaikan. Namun demikian, tulisan ini mencoba untuk menaruh fokus pada implikasi kedua yang disinggung dalam paragraf sebelumnya bahwa globalisasi membuat kesadaran kemanusiaan semakin besar. Lebih jauh, tulisan ini hendak menganalisis bagaimana hubungan antara globalisasi dengan gerakan mahasiswa yang pada akhirnya aspek kemanusiaan menjadi titik fokus dari paradigma dan strategi gerakan.
Manusia diciptakan untuk hidup secara bersama-sama. Tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang dapat hidup secara mandiri hingga akhir hayatnya. Untuk membangun harmoni dalam kehidupan, segenap manusia membutuhkan kesadaran humanisme atau kesadaran kemanusiaan. Secara sederhana, kesadaran ini diartikan sebagai kesadaran yang membawa manusia pada upaya untuk menaruh kepedulian terhadap sesama manusia.
Di dalam konteks globalisasi, agaknya perkembangan kesadaran kemanusiaan berjalan secara linier dengan semakin terbukanya koneksi antarindividu hingga antarnegara. Ruang tanpa sekat membuat manusia seperti tinggal dalam rumah besar, sehingga sesamanya saling membantu dan membutuhkan.
Pengaruh globalisasi terhadap kesadaran kemanusiaan beriringan dengan pesatnya teknologi informasi yang membuat arus informasi semakin mudah, bahkan menembus batas ruang dan waktu. Kita, misalnya, saat ini bisa mengamati kondisi kemiskinan yang mendera daerah yang jauh dengan cara yang sangat mudah dan dalam waktu yang singkat. Kemudahan tersebut dapat mengasah kepekaan dan kepedulian kita sebagai sesama manusia apabila ada sesama kita yang mengalami penderitaan.
Tidak hanya dalam penerimaan informasi, dengan perkembangan globalisasi, bentuk aksi kemanusiaannya pun dapat dilakukan dengan cepat dan relatif mudah. Misalnya untuk memobilisasi massa, kita hanya perlu membagikan (share) informasi ke seluruh jaringan yang ada, tidak terikat batas geografis sama sekali. Sehingga dengan demikian, aksi kemanusiaan menjadi mudah dilakukan berkat perkembangun teknologi informasi dalam arus globalisasi.
Lantas, bagaimana hubungan antara globalisasi, kemanusiaan, dan gerakan mahasiswa? Pertama-tama kita berangkat dari asumsi yang telah banyak disebut di atas bahwa globalisasi meningkatkan kesadaran kemanusiaan. Berikutnya, kesadaran kemanusiaan ini perlu untuk diterjemahkan dalam ranah praksis melalui serangkaian aksi kolektif yang terbingkai dalam paradigma gerakan.
Muncul pertanyaan penting, siapakah yang akan bergerak untuk kemanusiaan? Tentu saja golongan intelektual termasuk bagian penting di dalamnya untuk memotori aksi gerakan kemanusiaan. Dengan wawasan luas yang dimiliki, mereka dapat mengejawantahkan rasa kepedulian terhadap sesama menjadi aksi-aksi praksis yang dampaknya bisa langsung dirasakan dan diamati oleh masyarakat.
Mahasiswa, sebagai kaum intelektual, memiliki tanggungjawab yang besar dalam hal kemanusiaan. Bagaimana tidak, mahasiswa dididik untuk menjadi insan-insan yang tidak hanya menguasai bidang keilmuan tetapi juga memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Tidaklah mengherankan apabila muncul ekspektasi besar dari masyarakat terhadap kaum intelektual ini.
Maka, dengan demikian, posisi mahasiswa memegang peranan strategis untuk membuat perubahan berarti demi membawa kehidupan yang lebih baik serta berkeadaban sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Tanggungjawab inilah yang harus ditunaikan oleh mahasiswa. Tentu kita menyadari bahwa tanggungjawab tersebut tidak dapat diselesaikan secara individu, melainkan harus secara kolektif yang terkonsep dalam suatu paradigma gerakan mahasiswa.
Perkembangan globalisasi – sebagaimana diungkap di atas – haruslah dilihat sebagai pemacu rasa kemanusiaan karena telah menjadikan kehidupan manusia menjadi kehidupan yang universal di atas bumi ini. Unsur pokok dari pengaruh globalisasi yang menjadi tema utama tulisan ini ialah meningkatnya rasa kemanusiaan seiring dengan kemudahan akses berkat perkembangan teknologi yang menembus batas ruang dan waktu.
Gerakan mahasiswa juga sedikit-banyak mulai menyesuaikan dengan perkembangan yang ada dan membangun rasa kemanusiaannya secara optimal dengan aksi konkret yang dapat menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Aspek ideologis gerakan agaknya tidak terlalu banyak berpengaruh pada ranah praksis karena pada akhirnya disadari bahwa ideologi gerakan hanyalah wacana ide yang implementasinya tetap saja harus menyesuaikan dengan perkembangan konkret yang ada.
Ada fenomena menarik yang belakangan ini muncul berkaitan dengan paradigma gerakan mahasiswa. Jika dulu gerakan mahasiswa identik dengan struktur yang baku dan banyak berkutat dengan ranah politik, kini gerakan mahasiswa tidak selalu memiliki struktur yang baku dan jangkauannya pun dapat meluas.
Muncul pola baru gerakan mahasiswa dengan label komunitas yang didasarkan pada persamaan rasa simpati dan empati terhadap masalah-masalah kemanusiaan.
Indikasi komunitas yang dimaksud adalah bahwa gerakan mahasiswa tidak terorganisasi secara ketat melainkan gerakannya bersandar pada identitas perasaan ketertarikan yang sama atas isu-isu tertentu. Sebutlah misalnya ada komunitas mahasiswa yang menaruh perhatian pada isu-isu penjajahan Palestina. Selain itu dalam konteks lokal kita saksikan muncul gerakan mahasiswa untuk menangani persoalan di wilayah prostitusi dan wilayah sengketa lahan yang terjadi antara warga dan pemerintah.
Masih banyak lagi bentuk-bentuk konkret gerakan mahasiswa yang berorientasi kemanusiaan, bahkan di dalam struktur organisasi resmi kemahasiswaan di kampus hampir selalu ada bagian atau departemen yang menangani pengabdian masyarakat.
Selain memenuhi kewajiban perguruan tinggi sebagai pengabdi masyarakat, gerakan-gerakan mahasiswa kontemporer juga dipengaruhi oleh faktor globalisasi yang menjadikan manusia sebagai komunitas masyarakat universal tanpa mengenal batas ruang, waktu, dan wilayah geografis.
Jangkauan gerakannya pun tidak hanya dalam ranah lokal tetapi juga menembus luar negeri sebagai bukti bahwa kemanusiaan tidaklah dapat disekat oleh batas wilayah geografis negara tetapi didasarkan pada kesadaran seutuhnya bahwa manusia hidup secara kolektif-universal sebagai sesama manusia dan sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.