Kaesang dan Kritik Ndeso

josstoday.com

Kaesang Pangarep bersama ayahandanya yaitu Presiden Joko Widodo.

JOSSTODAY.COM - Oleh Rully Anwar **)

Sebuah adagium kekuasaan menyebutkan semakin besar kekuasaan yang melekat pada kepemimpinan seseorang, semakin besar pula tanggungjawab yang dituntut darinya. Tidak heran kemudian para filosof kemudian merumuskan perlunya kekuasaan itu diimbangi dan dibarengi dengan etika dan moral.

Adalah Plato yang menyebutkan bahwa negara adalah manusia dalam ukuran besar. Tentu, dengan konsep ini, kita tidak bisa mengharapkan negara menjadi baik, jikalau perilaku seseorang tidak baik. Untuk itu, sebuah pemerintahan harus dipimpin oleh ide yang tertinggi, yaitu kebaikan, kejujuran, dan kesantunan. Tujuan pemerintahan yang benar adalah mendidik warganya mempunyai budi, sementara itu negara yang ideal harus berdasarkan pada keadilan.

Berwatak baik adalah syarat mutlak untuk menghadirkan negara yang adil dan mampu melayani warganya. Kekuasaan harus dijalankan dan dikendalikan oleh orang-orang baik. Siapa saja yang menjalankan kekuasaan, sebenarnya lebih mudah mereka menjadikan kekuasaan itu sebagai tujuan untuk menguntungkan dirinya pribadi dan keluarga, bahkan kelompoknya. Dasar filosofi inilah yang boleh jadi sebenarnya ingin ditampilkan oleh sosok anak presiden Jokowi, Kaesang Pangarep dalam salah satu video blog bertajuk #BapakMintaProyek yang kemudian dinilai mengandung kebencian dan penodaan agama.

Penggunaaan kalimat ndeso dalam memaknai sebuah peristiwa sosial politik dianggap memicu kebencian. Kaesang pun dilaporkan ke polisi dan kasus ini tidak kemudian diteruskan karena dianggap tidak mengandung unsur pidana. Namun, konten dalam video tersebut sebenarnya adalah kritik dari Kaesang sebagai pembuat sekaligus aktor dalam video tersebut. Kritik itu adalah soal kekuasaan yang tidak bisa dijalankan dengan sewenang-wenang. Apalagi Kaesang secara detail menyinggung soal pemanfaatan jabatan presiden oleh keluarga atau kolega sang presiden.

Kaesang sebenarnya ingin menyindir orang-orang yang memanfaatkan kekuasaan dengan seenaknya sendiri, terutama untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Kekuasaan itu untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk kelompok tertentu. Kekuasaan itu amanah, bukan sekadar kuasa dan sok berkuasa. Kekuasaan itu berat dan harus dipertanggungjawabkan, bukan digunakan dengan tanpa beban. Apalagi jika kemudian kekuasaan itu dikorup.

Tak pelak, kritik Kaesang adalah pesan yang kaya tafsir. Kaesang boleh jadi telah mampu membaca hal yang sangat dekat dengan kesehariannya, yaitu menjadi anak presiden. Dimana fenomena yang dia singgung di video blog masih dimungkinkan marak terjadi, seperti adanya kolusi, korupsi, dan nepotisme. Hanya, Kaesang dan kritikannya pun bukan di ruang hampa. Semua itu malah dibaca lain oleh para pengkritik pemerintah. Apalagi di saat berbarengan di media sosial sempat menjadi viral bagaimana kunjungan kenegaraan presiden ke Turki diikuti oleh semua keluarganya.

Sekali lagi, kritikan Kaesang menjadi sebuah otokritik kaya tafsir. Siapa pun boleh kembali membacanya, memaknainya, dan menikmati dialognya, termasuk mungkin bagi Kaesang peluncur kritik ndeso.

Tapi, publik telah mencatat, bagaimana pun, Kaesang telah berani mengambil sikapnya. Sikap yang memposisikan sebagai pengkritik, --termasuk bagi presiden yang notabene ayahnya pun masuk dalam orang yang ia kritik-- dengan gayanya yang khas anak muda Solo. Dan bagaimana pun, harus diakui bahwa daya kekuasaan memang melenakan, tapi kekuasaan tanpa kritik tidak hanya melenakan, melainkan sekaligus menjerumuskan sang penguasa ke lembah kejumudan dunia.

Dan bukankah kekuasaan yang dimaknai sebagai amanah mampu mengantarkan penguasa pada pahala? Nah, disinilah konteks tradisi kritik pada kekuasaan harus tetap dipelihara dan dikuatkan. Kaesang sudah memulainya, meskipun masih muncul intepretasi yang membuat publik cukup sensitif, terutama dengan isu-isu agama.

Mari kita kritik kekuasaan dengan rasa hormat dan harapan agar kekuasaan yang kita kritik itu, tetap berada di jalur yang benar. Jalur kemaslahatan bagi publik, bukan jalur yang malah mengorbankan publik. Kekuasaan itu sementara, agar yang sementara ini berkah, harus dijaga dan dikontrol. Seperti halnya Lord Acton yang memandang kekuasaan bukan tanpa penyakit dengan pernyataannya, “Power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely”. Kekuasaan cenderung untuk disalahgunakan dan kekuasaan mutlak pasti dipersalahgunakan.

Jadi mari kita renungkan pernyataan Acton sekaligus kritik ndeso Kaesang, untuk menjaga dan mengontrol kekuasaan agar tetap benar dan jujur. Selamat berhari raya Jumat. (*) 

**) Rully Anwar adalah pemimpin redaksi Portal Berita Josstoday.com dan Bumntoday.com

kaesang ndeso