Kejutan Pilkada Jatim
Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf dan Abdullah Azwar Anas adalah sejoli penerima Top Leader Annual Awards 2017, yang penganugerahannya digelar pada CEO Forum baru-baru ini. (Foto: Fariz Yarbo)
JOSSTODAY.COM - Oleh Rully Anwar **)
Sampai hari ini belum mengerucut siapa pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur yang akan berlaga di kontestasi tahun depan. Memang, jika kita lihat dari bursa, nama-nama masih berkutat di Saifullah Yusuf, Khofifah, Tri Rismaharini, dan Abdullah Azwar Anas. Keempat nama ini bertengger di tangga paling atas dari sejumlah hasil survei terkait elektabilitas menjelang pilkada Jatim.
Jika kita melihat belum jelasnya arah dukungan dan koalisi partai, menjadi sinyal terjadi tarik menarik antara sikap partai yang cenderung memilih satu calon dengan calon yang lain, meskipun sejumlah partai sudah menyatakan dukungan kepada satu nama. Ruang-ruang yang masih gelap inilah yang menarik disimak. Terutama dari ruang-ruang inilah kontestasi sebenarnya menyimpan kejutan-kejutan.
Kejutan pertama, adalah soal rekam jejak pemerintahan Soekarwo-Saifullah Yusuf. Sepanjang hampir sepuluh tahun terakhir Jawa Timur dipimpin pasangan yang mendeklarasikan dengan nama “Karsa” dengan jargon politiknya “APBN Untuk Rakyat”, rakyat tentu memiliki penilaian terhadap kinerja keduanya. Bagaimana tingkat kepuasan publik pada kinerja mereka? Sejumlah survei sudah merekam tingkat kepuasan tersebut. Rata-rata tingkat kepuasan publik berkisar di angka 50-65 persen. Surabaya Survey Center mencatat tingkat kepuasan publik atas kinerja Karsa berada di angka 65,80 persen untuk Soekarwo dan Saifullah 49,90 persen. Sementara Poltracking berada di tingkat kepuasan 60 persen untuk Soekarwo dan Gus Ipul 59 persen.
Dari angka ini potensi kejutan pertama sebenarnya tersimpan. Hal ini berpijak pada argumen, tidak selamanya tingkat kepuasan berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan. Pengalaman di Pilkada DKI, misalnya, tingkat kepuasan publik rata-rata di atas 70 persen. Namun, apa yang terjadi, Ahok tumbang di pilkada dan dikalahkan “pendatang baru”, Anies-Sandi. Ahok hanya mampu mendulang 42,04 persen suara di putaran kedua, jauh dari angka kepuasan publik atas kinerjanya sepanjang menjadi Gubernur DKI.
Potensi kekalahan incumben bisa saja terjadi dan itu kejutan. Mengapa? Gus Ipul yang menjadi incumben selama ini dikenal dekat dengan rakyat, egaliter, apa adanya, dan relatif baik selama menjalankan tugas sebagai wakil gubernur sepanjang 10 tahun terakhir ini. Kejutan ini bisa terjadi jika ada “peristiwa besar” yang menguras emosi publik yang bernuansa negatif pada sosok Gus Ipul, seperti kasus Al Maidah yang menjerat Ahok. Beruntungnya, sampai saat ini dan bisa kita prediksi rasanya tidak ada muatan negatif yang memiliki daya gerus yang besar untuk mendegradasi sosok Gus Ipul. Tapi jika ini terjadi, kejutan pertama terbukti.
Kejutan kedua, sosok Khofifah sampai tulisan ini dibuat, belum secara resmi mendeklarasikan diri mau maju di pilkada Jatim tahun depan. Tentu, banyak pertimbangan yang harus dilakukan Khofifah. Kekalahan dua kali di Pilkada Jatim 2008 dan 2013 tentu menjadi pertimbangan Menteri Sosial ini. Jika Khofifah jadi maju, tentu publik tidak terkejut karena pemberitaan selama ini memposisikannya sebagai bakal calon gubernur Jatim. Menariknya, jika Khofifah urung maju. Tentu, ini kejutan. Selain rekam jejak di pilkada sebelumnya, dukungan dan restu Presiden Jokowi juga menjadi variabel penting bagi Khofifah. Jika tidak jadi maju, tentu kejutan ini “disambut” oleh poros politik yang potensial menjadi lawan Khofifah di pilkada.
Kejutan ketiga tentu berasal dari luar dua nama yang selama ini muncul, Gus Ipul dan Khofifah. Nama-nama seperti Tri Rismaharini dan Abdullah Azwar Anas bisa menjadi nama yang mengejutkan dan berpeluang mendapatkan dukungan dari publik. Namun, jangan berhenti di situ. Nama Djarot Saiful Hidayat boleh jadi juga bisa menjadi kejutan. Kunjungan Djarot ke Banyuwangi beberapa waktu lalu dan bertemu dengan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyimpan banyak intepretasi. Namun, biarlah publik yang menghitung. Namun jika kemudian Djarot muncul menjadi kandidat di Jawa Timur, berpotensi mengubah konstelasi politik yang selama ini sudah relatif “mapan”. Mengapa Djarot? Dia sudah akan mengakhiri tugasnya sebagai Gubernur DKI dan dia mantan Wali Kota Blitar dua periode yang relatif sukses.
Tapi tentu semua berpulang pada partai politik. Kepada siapa tiket mereka berikan. Apakah kepada incumben yang tentu memiliki modal kinerja 10 tahun terakhir ini, yang berdasarkan sejumlah hasil survei, tingkat popularitas dan elektabilitasnya relatif di atas nama-nama yang lain. Ataukah tiket itu diberikan pada nama-nama baru yang menyimpan potensi baru untuk Jawa Timur ke depan. Tentu, publik tidak akan sekadar pasif pada kejutan-kejutan di atas, namun sekaligus akan merespon aktif pada munculnya sosok pemimpin yang mampu meningkatkan kesejahteraan. Jika ada pemimpin seperti itu, tentu publik tidak harus terkejut, karena itu memang tugas seorang pemimpin. Selamat menanti kejutan!
**) Rully Anwar adalah pemimpin redaksi Portal Berita Josstoday.com
Pilkada Jatim Pilkada