Perang Dagang Bisa Berlanjut ke Perang Mata Uang

josstoday.com

Mata uang Yuan dibandingkan dolar AS.

JOSSTODAY.COM - Tiongkok sudah memperingatkan akan melakukan pembalasan atas setiap tarif baru yang diterapkan Amerika Serikat dengan juga mengenakan tarif, tetapi negara itu juga bisa memutuskan untuk menggunakan mata uangnya sebagai senjata.

Caranya adalah dengan membiarkan yuan terus melemah terhadap dolar AS.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengkritik Tiongkok karena sengaja membuat mata uangnya melemah. Ketika itu, para pakar strategi mengatakan Tiongkok tampaknya tidak dengan sengaja membiarkan nilai yuan jatuh, tetapi juga tidak punya niat mengerem penurunannya seperti yang normalnya dilakukan.

Selama sebulan lebih sekarang, nilai yuan relatif stabil dan berada di kisaran tertentu.

"Jika mereka membiarkan mata uangnya bergerak di atas 7 dalam menghadapi tarif yang akan diumumkan hari ini, maka dolar akan bergerak secara global. Ketika mata uang Tiongkok benar-benar bergerak, maka itu akan menyeret banyak mata uang lain bersamanya, dan nilai dolar akan lebih tinggi." kata Jens Nordvig, CEO Exante Data.

"Saya kira, dua hari ke depan akan krusial."

Pada Senin (17/9) malam waktu Amerika atau Selasa pagi WIB, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif baru sebesar 10% atas produk-produk asal Tiongkok senilai US$ 200 miliar (Rp 2.979 triliun), meningkat pesat dibandingkan tarif sebelumnya atas produk Tiongkok senilai US$ 50 miliar.

Tarif ini akan meningkat menjadi 25% pada akhir tahun.

Bank Sentral Tiongkok menetapkan nilai tukar harian yuan didasarkan pada harga-harga terakhir, dan membolehkan perdagangan terhadap dolar dalam rentang 2% di atas atau di bawah level yang ditetapkan itu.

"Jika mereka punya terget berbeda dan menetapkan mata uang dengan cara berbeda pula, ini akan sangat-sangat penting," kata Nordvig.

Jika 1 dolar senilai 7 yuan, itu akan dianggap sebagai batas kunci yang bisa memicu kejatuhan lebih dalam. Dolar AS diperdagangkan seharga 6,85 yuan pada Senin (17/9) kemarin.

Nordvig mengatakan peluangnya 50-50 bahwa Tiongkok akan membiarkan yuan kembali melemah.

"Setiap orang menjadi terlalu santai karena mereka (Tiongkok) akan kembali melakukan repegged (menguci) nilai mata uang. Bahwa ini tidak akan bergerak," kata Nordvig.

"Kenapa mereka akan bersedia membantu Trump dalam soal mata uang? Ini tidak masuk akal bagi saya," ujarnya.

Nordvig mengatakan level berikutnya adalah mengamati nilai tukar dolar/yuan di angka 6,9.

"Mereka telah melakukan banyak hal untuk menghindari angka di atas 6,9," ujarnya.

Jika Tiongkok membiarkan mata uangnya di atas 6,9, "Semuanya akan banyak bergerak... menurut saya dua hari ke depan akan krusial." (gus/b1)

eskalasi perang dagang