Kemristekdikti Dorong Inovasi SDA Lokal Jadi Pangan Fungsional
Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti, Jumain Appe.
JOSSTODAY.COM - Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) menginginkan sumber daya alam (SDA) atau sumber lokal yang melimpah di Indonesia menjadi pangan fungsional.
Pangan fungsional adalah pangan yang tidak hanya mengenyangkan tetapi juga menyehatkan. Sebab, makan kenyang belum tentu sehat.
Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti Jumain Appe mengatakan, makanan yang sehat ke depan adalah yang memberi fungsi kesehatan. Antara pangan dan kesehatan tidak bisa dipisahkan.
"Upaya untuk mengubah struktur pangan menjadi sehat disebut pangan fungsional atau functional food. Sehingga teknologi penting di sini," katanya di sela-sela Forum Inovasi Pangan dan Kesehatan di Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (26/9).
Oleh karena itu, ia mendorong riset perguruan tinggi bisa menyentuh sumber lokal yang bisa dijadikan inovasi dan berguna dalam kehidupan masyarakat.
"Kemristekdikti mendorong hilirisasi dan hasil-hasil penelitian. Selain itu mendorong lahirnya pengusaha pemula berbasis teknologi," ucapnya.
Terkait hilirisasi ini, Kemristekdikti juga menjembatani sinergi antara lembaga penelitian, pemerintah dan dunia usaha. Di tangan dunia usaha inilah suatu inovasi bisa diproduksi massal.
Melalui kluster inovasi ini, sumber lokal daerah bisa diangkat dan mendorong pembangunan ekonomi daerah. Di Sulawesi Selatan lanjutnya, banyak sumber daya lokal yang sudah dan mulai dikembangkan seperti gula semut, kopi, garam, rumput laut dan lainnya.
Gula semut dari pohon Aren ini lanjutnya, disebut lebih sehat. Penderita diabetes bisa mengkonsumsinya. Pasar dunia pun mulai beralih dari gula putih ke gula merah.
Selain itu, akan dikembangkan juga rumput laut untuk kesehatan, pangan dan bahan kosmetik. Melalui pendampingan dan insentif riset, selain pendanaan, bantuan perijinan edar dan standarisasi kesehatan juga diarahkan agar produk dijamin kualitasnya bagi kesehatan.
Saat ini Kemristekdikti menyiapkan anggaran sekitar Rp 350 miliar untuk anggaran insentif inovasi perguruan tinggi, industri dan pengusaha pemula berbasis teknologi (PPBT). Untuk PPBT diberi insentif Rp 400 juta per paket, industri Rp 1 miliar dan untuk perguruan tinggi Rp 1-5 miliar.
Jumain menyebut, tren saat ini mengarah ke pangan fungsional. Selain itu masih adanya masalah stunting atau kekerdilan di Indonesia erat kaitannya karena kekurangan gizi. Pangan fungsional ini bisa menjadi jawaban melawan stunting.
"Kita dorong pangan fungsional. Pangan ini memiliki marker tertentu untuk mencegah sesuatu dan khasiat tertentu akan menarik ke depannya," ujarnya.
Konsep pangan fungsional ini juga mendorong keragaman pangan (diversifikasi pangan). Sehingga ke depan tidak hanya beras yang terus dikonsumsi. (gus/b1)
Kemristekdikti