DPRD DKI Pertanyakan Urgensi Pembelian Bak Sampah Rp 9,6 M

josstoday.com

Tempat sampah buatan Jerman yang dibeli Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

JOSSTODAY.COM - Komisi D DPRD DKI mempertanyakan urgensi Dinas Lingkungan Hidup DKI membeli 2.600 unit bak sampah dengan anggaran mencapai Rp 9,6 miliar. Pihak dewan beranggapan pembelian bak sampah tergesa-gesa tanpa memperhatikan kualitas dan spesifikasi produk yang diimpor dari Jerman.

Ketua Komisi D Iman Satria mempertanyakan mengapa pemprov harus menggelontorkan anggaran hampir Rp 10 miliar dengan membeli bak sampah berbahan plastik dan impor dari Jerman. Dia malah meyakini tidak ada pembahasan mengenai itu dalam menyusun APBD 2017.

"Di pembahasan tidak ada tempat pembelian. Enggak habis pikir kenapa harus dari luar negeri? apa sih kehebatannya?" keluh Iman, di Jakarta, Senin (4/6) malam.

Iman tidak menanggapi ketika disinggung apakah pihaknya segera memanggil Kadis Lingkungan Hidup DKI untuk mengklarifikasi itu, namun Sekretaris Komisi D Pandapotan Sinaga menegaskan dalam pekan ini pihaknya bakal memanggil dinas terkait untuk mendapatkan penjelasan.

"Perlu kita panggil, kalau harganya sekian miliar, unitnya banyak, bagaimana dengan spesifikasinya? Kenapa harus dari Jerman? Apa yang diutamakan?" katanya.

Politisi PDI-P itu meminta Gubernur Anies Baswedan untuk tidak langsung menimpakan kesalahan terkait itu kepada gubernur terdahulu, sebab yang bersangkutan memegang kendali dan mengetahui pengadaan yang sedang maupun yang belum ditender.

"Jangan ketika dia meresmikan sesuatu dia malah memposisikan diri kalau itu hasil jerih payahnya tetapi ketika ada masalah dia menimpakannya kepada yang lain. Itu tidak gentle," ujarnya.

Gubernur Anies ketika disinggung mengenai pengadaan bak sampah tidak mau berbicara banyak karena membutuhkan waktu untuk mempelajarinya. Dia malah meminta media untuk meramaikan berita itu dan menegaskan bakal ada kejutan dalam penjelasannya nanti.

Menurut Pandapotan, ke depan DKI harus memiliki inovasi untuk lebih efektif-efisien melakukan pengadaan terkait bak sampah. Misalnya, menggandeng fakultas teknik di dalam negeri untuk menciptakan produk-produk seperti itu.

Dia mengusulkan, lebih baik DKI fokus untuk melakukan sosialisasi pembuangan sampah kepada masyarakat dan konsisten melakukannya.

"Kalau mengenai sampah, sepanjang zaman tentu dibutuhkan inovasi, kalau sekarang sedang membangun pengolahan sampah dalam kota (Intermediate Treatment Facility/ITF) fokus saja di situ. Kemudian terus konsisten menyosialisasikan masyarakat mana sampah yang bisa didaur ulang dan mana yang tidak," katanya.

Kadis Lingkungan Hidup DKI Isnawa Adji mengaku siap memberi penjelasan kepada dewan mengenai pengadaan bak sampah. Dia mengaku sudah memberikan nota dinas kepada gubernur mengenai itu.

Isnawa membantah jika disebut pengadaan bak sampah termasuk impor dari Jerman tidak pernah dibahas dengan legislatif, "Enggakmungkin tidak dibahas, kan ada Bappeda. Tidak mungkin kegiatan tidak dibahas," bebernya.

Isnawa melanjutkan, pihaknya memilih mengimpor bak sampah dari Jerman karena dalam katalog elektronik Lembaga Kebijakan Penyediaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) hanya perusahaan dari Jerman dan Tiongkok yang siap mengadakan. Pihaknya memilih Jerman karena dari Tiongkok belum tersertifikasi.

"Importirnya PT Groen Indonesia yang memang bergerak di bidang itu," ujar Isnawa.

Pengadaan bak sampah dilakukan seiring Dinas Lingkungan Hidup mengganti truk pengangkut sampah dengan truk compactor yang bisa mengangkut sampah dari bak yang diadakan dari Jerman itu. Dengan adanya bak sampah baru, sampah-sampah yang terkumpul tak perlu lagi diangkut menggunakan gerobak menuju truk.

"Petugas bisa mendorong bin (bak sampah) beroda ini ke lokasi truk compactor dan langsung mengaitkan ke kait hidrolik. Tempat sampah akan terangkat ke dalam truk compactor. Ini persis seperti di negara-negara maju," jelasnya. (gus/pr)

APBD DKI jakarta