Saya Indonesia dan Saya Pancasila

josstoday.com

AKBP Sabilul Alif

JOSSTODAY.COM - Sabilul Alif **)

Tagline “Saya Indonesia, Saya Pancasila”, belakangan menjadi viral di sosial media. Nyaris, penghuni dunia maya, berbondong-bondong menggenderangkan tagline kebangsaan—yang tidak dipungkiri pula belakangan terakhir—rasa kebangsaan dalam kebhinekaan semakin menipis di dalam kehidupan.

Keberagamaan suku, agama, ras, dan budaya, tentu tidak menampik adanya ketertikisan nilai-nilai kebangsaan, yang seharusnya dijadikan sebagai sarana mempererat kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, demikian yang terjadi di negeri tercinta ini. Perbedaan—yang pada hakikatnya merupakan suatu anugerah Tuhan—tak pelak menjadi celah memecah-belah nilai-nilai persatuan bangsa.

Tentunya, bukan menjadi rahasia umum lagi, bagaimana konflik demi konflik terjadi di Negara Kesatuan Republik ini. Pro dan kontra atas apa yang terjadi, menjadi bagian yang tidak bisa dihindari di tengah masyarakat majemuk. Seperti halnya teror bom bunuh diri yang terjadi di Kampung Melayu beberapa tempo yang lalu. Sebagian mendukung Polri untuk mengusut dan menangkap para pelaku, tak pelak terdapat pula yang menggiring kejadian tersebut merupakan pengalihan issu dan rekayasa.

Sebagai abdi negara yang bertugas di lembaga Bhayangkara, tentu hal tersebut menjadi momok bagi kami. Sungguh, tentu menjadi sangat disayangkan, apabila masyarakat yang notabene adalah sumber kekuatan kami, ternyata memiliki pradigma yang tidak seharusnya.

Sebagai umat beragama, tentu sudah sepaham, bahwa perbedaan diciptakan oleh Tuhan. Siapapun dari kita, tentu tidak bisa meminta dilahirkan dari suku dan rasa mana pun. Dan, seharusnya, baik suku, rasa, budaya, hingga agama sekalipun—yang menjadi suatu perbedaan—alangkah eloknya apabila dijadikan sarana untuk saling mengenal dan menghargai hingga pada akhirnya melahirkan nilai-nilai persatuan sebagaimana tujuan perbedaan itu diciptakan oleh Tuhan.

Tidak ada yang salah dalam pancasila. Nilai-nila yang terkandung dalam pencasila merupakan falsafah bangsa ini untuk menjalankan kehidupan sebagaimana bangsa yang sudah seharusnya berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, bermusyarawarah dan berkesosialan.

Namun demikian, tentu menjadi suatu ketegasan pula atas tagline yang kini digenderangkan. Menjadi Indonesia dan Pancasila, tentunya tidak hanya dilakukan dalam tulisan semata. Jauh daripada itu, menjadi Indonesia dan Pancasila harus dilaksanakan dengan segenap jiwa raga.

Tidak usah muluk-muluk terlalu luas untuk menjadi Indonesia dan Pancasila. Cukup menjadikan diri kita sebagai representatif negara yang berpancasila dengan menjadikan diri sebagai pribadi yang berketuhanan; menjalankan perintah dan larangan Tuhan, berkemanusiaan dengan tidak saling menuding kesalahan, memiliki persatuan dengan tidak gemar menimbulkan perpecahaan baik secara perkataan dan tulisan terlebih perbuatan, Serta mampu berdiskusi/bermusyawarah dengan kepala dingin ketika berhadapan dengan perbedaaan.

Dan, yang lebih penting bagaimana menjadikan diri menjadi pribadi yang bersosial, mampu membaur dan berbagi dengan sesama agar terjadinya suatu kesejahteraan secara bersama-sama pula.

Bila diri menjadi pribadi yang baik dan pancasilais, niscaya negeri ini menjadi aman dan damai. Toh, bila pun kedatangan rongrongan yang ingin menghancurkan kedamaian dan persatuan di negeri ini, niscaya kita dengan mudah dapat dibumihanguskan.

Selamat Hari Pancasila. Kita adalah Indonesia. Oleh karena itu, kita Pancasila. (*)

**) AKBP Sabilul Alif adalah Wadirlantas Polda Jatim, sebelumnya adalah Kapolres Bondowoso dan Kapolres Jember. Dikenal sebagai polisi inovatif, humanis dan tegas. Penerima Top Leader Annual Awars 2016 yang digelar Portal Berita Josstoday.com.   

 

 

 

pancasila polisi keberagaman