Dawam Rahardjo, Pemikir Islam Pembela Kaum Minoritas

josstoday.com

Cendekiawan muslim Dawam Raharjo.

JOSSTODAY.COM - Cendekiawan Muslim Dawam Rahardjo meninggal dunia dalam usia 76 tahun di RS Islam Jakarta, Rabu (30/5) malam. Tokoh kelahiran Solo tersebut selama ini dikenal sebagai pemikir Islam, ekonom, pengusaha, akademisi, aktivis dan pembela hak asasi manusia (HAM).

Hal tersebut disampaikan sahabat Dawam yang juga Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshidiqie.

"Innalillahi wainnaillaihi rojiun. Bapak Prof M Dawam Rahardjo barusan mengembuskan napas terakhir," ujar Jimly, Rabu (30/5).

Kabar duka ini pun sontak menyita perhatian publik. Ratusan warganet pun memberikan pesan bela sungkawa melalui akun media sosialnya. Salah satunya adalah sastrawan Indonesia, Goenawan Mohamad.

“Kehilangan M. Dawam Rahardjo, wafat kemarin. Sejak muda ia merintis pemikiran terbuka dan usaha menegakkan keadilan. Banyak yang bisa ditulis tentang dia. Saya cuma mau tambahkan: ia pernah memperkenalkan kita dengan karya besar Nikos Kazantakis The Last Temptation of Christ,” tulisnya dalam akun Twitter, Kamis (31/5).

Sebelum meninggal, pria kelahiran Solo ini diketahui memang tengah sakit. Akhir Januari 2018, Dawan sempat menjalani perawatan intensif selama tiga bulan di rumah karena penyakit diabetes, jantung, dan stroke.

Pembela HAM

Dawam Rahardjo dikenal sebagai tokoh liberal dan konsisten sejak lama dan peduli terhadap kasus-kasus berhubungan dengan nasib kaum minoritas yang terpinggirkan di negeri ini. Ia menyuarakan keadilan bagi kelompok Ahmadiyah, Lia Eden, serta umat Kristen yang kesulitan mendirikan gereja ataupun diintimidasi kelompok lainnya. Keteguhan itu harus dibayar dengan dikeluarkannya nama beliau dari kepengurusan Muhammadiyah.

Bukan hanya itu hujatan dan ancaman bom surat pernah dilayangkan kepadanya. Namun, tidak menyurutkan sikapnya yang memperjuangkan pluralisme dan HAM. Tidak mudah baginya memperjuangkan sikap dan prinsipnya itu, kala mesti berhadapan orang-orang, teman-temannya yang menghujat dan tidak menyetujui konsep dan pola pikirnya.

Meski membela keadilan bagi kelompok-kelompok minoritas itu, Dawam menegaskan bahwa bukan berarti dirinya sepaham dengan ajaran Eden, Ahmadiyah, Kristen maupun kelompok lainnya. Baginya hidup beragama haruslah memiliki kebebasan.

Dawam yang juga seorang guru besar ilmu ekonomi di Universitas Muhammadiyah Malang itu, semasa hidupnya memiliki harapan besar bahwa, pluralisme, semangat kebersamaan dalam keberagaman, sikap toleransi dapat dikembangkan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin intoleran.

Oleh sebab itu, pada 2013 ia mendapat penghargaan Yap Thiam Hien yang diberikan oleh Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia. Setiap satu tahun sekali sejak 1992, penghargaan itu diberikan kepada orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia.

Dalam meniti karier, Dawam pernah bekerja sebagai staf di Departemen Kredit Bank of America, Jakarta pada 1969. Setelah dua tahun bekerja di perusahaan tersebut, ia memutuskan berhenti. Selepas dari Bank of America, Dawam kemudian bergabung di LP3ES (Lembaga Penelitian dan Pembangunan Ekonomi-Sosial) sebagai staf peneliti.

Lambat laun posisinya merangkak naik menjadi kepala bagian penelitian dan pengembangan hingga akhirnya menjadi direktur. Pada saat di LP3ES inilah pengetahuan Dawam Rahardjo tentang ekonomi kerakyatan bertambah.

Sejak itu, tulisan maupun esainya mengenai ekonomi dan politik tersebar di media massa. Kemudian dia juga menulis jurnal dan buku. Beberapa karyanya yang terkenal adalah Esai-esai Ekonomi Politik(1983), Deklarasi Mekah: Esai-esai Ekonomi Islam (1987), Etika Bisnis dan Manajemen (1990), Habibienomics: Telaah Pembangunan Ekonomi(1995), Paradigma Alquran: Metodologi dan Kritik Sosial (2005), serta Nalar Politik Ekonomi Indonesia (2011). (gusb1)

PROF. M. DAWAM RAHARDJO